Selasa, 19 Februari 2013

Mt. Ungaran 2050 mdpl ( Part 1 )

Mt. Ungaran 2050 mdpl
First Hiking (Pendakian Pertama)

06-October-2012
  Aktivitas mendaki gunung masih baru saya kagumi dan impikan beberapa bulan setelah lulus SMA. Setelah diterima di Jurusan Sejarah Undip, semangat untuk merealisasikan mimpi itu pun muncul. Sebelumnya saya berjanji dengan teman-teman satu angkatan untuk merencanakan sebuah pendakian ke Gunung Ungaran. Gunung Ungaran sendiri memiliki ketinggian 2050 mdpl terletak di sebelah selatan kota Semarang, tepatnya di kabupaten Ungaran.
  
  Hingga akhirnya menemukan dua teman Iqbal Firmansyah dari sesama angkatan Sejarah 2011 dan Faishal Hidayatullah dari Ilmu Perpustakaan 2011. Sebenarnya pada saat itu kami bertiga tidak mempunyai dasar atau basic mendaki gunung dengan benar. Hanya bermodalkan semangat mahasiswa saja kami memberanikan diri untuk berangkat.

  Akhirnya sabtu siang kami berkumpul di gedung Sejarah Undip, dengan logistic seadanya dan info dari internet yang ala kadarnya petualangan kami pun dimulai. Dengan naik 2 sepeda motor kami menuju Taman Wisata Bandungan kab. Ungaran. Dari Pom Bensin Lemah Abang mengambil jalan ke kanan. Lurus dan menemui pasar Jimbaran. Setelah itu di depannya persis terdapat gang menuju basecamp pendakian gunung Ungaran yang biasa disebut penduduk atau mapala sekitar dengan sebutan Basecamp Mawar. Dari basecamp Mawar motor kami dititipkan dengan biaya retribusi. Setelah mempersiapkan tas dan barang –barang lainnya kamipun siap berangkat.

     
  Dari basecamp mawar jalanan tidak begitu buruk. Masih berupa tanah dengan batuan kecil dikelilingi dengan rumput ilalang dan pohon pinus disebelah kanan. Setelah itu menjumpai mata air pada suatu tempat persegi atau tandon yang lumayan besar pada sisi kanan jalan ketika berangkat. Jika tidak berkabut, rumah-rumah yang berada di lereng gunung pun dapat terlihat. Setelah itu akan dijumpai Pos II dimana kami melaksanakan shalat Dhuhur di sini.

   
  Perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri hutan gunung. Kemudian dijumpai sungai kecil yang airnya masih kelihatan bening. Suara air dan angin membuat sejuk suasana. Jalanan pun terkadang menanjak, lalu kembali ke landai. Perjalanan dilanjutkan dengan dijumpainya kebun kopi dan terdapat pula bak penampungan air yang menyerupai kolam renang. Biasanya para mapala mandi disitu.


      
  Dari kebun kopi terdapat pertigaan jalan. Jalur kekiri menuju puncak. Jalur lurus kurang tahu menuju kemana. Tetapi menurut beberapa sumber, itu menuju ke Babadan Ungaran. Yang harus diperhatikan saat perjalanan adalah tulisan atau tanda arah menuju puncak. Biasanya terdapat pada setiap percabangan jalan. Perjalanan dilanjutkan dengan terhamparnya kebun teh yang sangat luas. Terdapat percabangan jalan. Kalau kekiri langsung menuju puncak. Jika lurus menuju ke dusun Promasan.



  Biasanya para mapala atau pendaki Gunung Ungaran sering menginap di dusun ini untuk beristirahat sembari menunggu waktu memuncak yang biasanya dilakukan dini hari.
Kami bertiga dengan info sekadarnya akhirnya memutuskan untuk langsung ke puncak gunung Ungaran tanpa menginap terlebih dahulu. Sempat bertemu dengan pendaki lain dari FISIP Undip yang menyempatkan untuk berfoto bersama.


  Kami bertiga memutuskan mengambil jalur kekiri untuk langsung menuju puncak. Jalanan pun masih sama bebatuan kecil dan disebelah kiri-kanan masih terhampar luas perkebunan teh. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan memasuki hutan gunung. Jalanan pun mulai berubah menjadi batu-batu yang cukup besar dan terjal. Kemudian akan dijumpai pos terakhir dimana kami singgah disitu untuk menunggu hujan reda. Setelah itu dilanjutkan dengan bebatuan yang amat besar dan licin untuk didaki. Setelah melewati dataran yang cukup landai kami bertiga memutuskan untuk shalat Ashar dan makan bekal yang dibawa. Akhirnya dengan rasa ketidak percayaan kami berhasil menuju puncak gunung Ungaran pukul 19.30 malam hari. Dari atas puncak malam hari bisa dilihat lampu-lampu rumah serta mobil dan aktivitas kota yang padat. Setengah jam berada di puncak kita memutuskan untuk kembali turun.

  Sebenarnya sangat aneh ketika kami bertiga sampai puncak pada malam hari. Tidak menginap. Tak mendapatkan apa-apa. Dan tanpa persiapan. Tetapi inilah pengalaman pertama.Pengalaman pertama untuk menuju pengalaman-pengalaman  hebat selanjutnya. Terima kasih bagi yang sudah membaca. Kami mendokumentasikan perjalanan ini dalam bentuk slide picture maupun video berdurasi pendek yang bias disaksikan di Youtube. Tetap semangat, dan kejar mimpimu. Salam Ransel.